Pengalaman di Pramuka

Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan.

PELATIH MUDA PRAMUKA SMPN 49 BANDUNG


Entah kenapa tiba-tiba saja saya ingin nulis tentang Gerakan Pramuka berikut permasalahan-permasalahanya. Memang disadari betul bahwa saya juga bagian dari Gerakan Pramuka walau dalam tataran tingkat Kota Bandung dan saya Menjadi Pelatih Muda di SMPN 49 Bandung, secara kebetulan beberapa Pembina Pramuka di DKC (Dewan Kerja Cabang) Kota Bandung saya itu sering tukar pendapat dan kadang tukar pengalaman, sehingg segala macam ide, gagasan bahkan permasalahan sering saya dengar dari curhatan para Pembina ini. sebenarnya ada juga wadah untuk pembinaan para Pembina Pramuka itu yaitu dalam kegiatan Karang Pamitran untuk tingkat DKR (Dewan Kerja Ranting) Tingkat Kecamatan.

Pengalaman Kesenaggan Dan Kegembiraan Bersama Teman Teman Purna KOPASKA SMK AL-HADI

Bicara Gerakan Pramuka maka satu hal yang harus diketahui secara mendasar adalah tentang organisasinya, dimana Gerakan Pramuka atau bisa juga di sebut sebagai Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia merupakan  organisasi pendidikan nonformal yang mengisi dan melengkapi pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah, yang pembentukkanya tentu saja atas dasar kesadaran  dan keinginan masyarakat untuk membantu Pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan nasional, khususnya di bidang Pendidikan.

Memang sangat luar biasa hakikat dari pendirian Gerakan Pramuka di Indonesia ini, bahkan Gerakan Pramuka juga di jadikan sebagai wadah pendidikan di luar sekolah dan di luar keluarga dalam pembinaan generasi muda yang menerapkan dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan yang pelaksanaanya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa serta juga tentunya masyarakat Indonesia itu sendiri.

PRAMUKA SMK AL-HADI BANDUNG

Secara teori bahkan mungkin amanat Undang-Undang No. 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, memang demikian adanya bahkan di setiap kursus-kursus pun selalu disampaikan tentang Pola Pembinaan Anggota Gugus Depan dan lain sebagainya, namun demikian apapun itu organisasinya, kendala itu selalu ada, apalagi Gerakan Pramuka, masalah demi masalah selalu saja ada baik di Gugus Depan / Sekolah maupun di tingkatan Kwartir / Kepengurusan dalam Gerakan Pramuka.

Terlalu seringnya saya menampung berbagai keluhan dan masukan dari para Pembina Pramuka , Pelatih Pembina bahkan dari unsur jajaran Kwartir nya juga maka dapat di inventarisir persoalan-persoalan tersebut, diantaranya adalah :

Minat peserta didik menurun

Menurunnya tingkat partisipasi peserta didik di sekolah terhadap Ektrakulikuler Pramuka, tentunya  banyak alasan dan banyak bahan untuk menjadikan kegiatan Pramuka sebagai kegiatan ” Tidak Kekinian “, mungkin juga ada yang bilang Pramuka itu ” Jadul ” dan lain sebagainnya, namun demikian kita tidak bisa kemudian menyalahkan peserta didik atau murid-murid di sekolah kenapa tidak tertarik pada Ektrakulikuler Pramuka di Sekolahnya. Banyak hal yang harus dibenahi di sekolah tersebut agar kegiatan Kepramukaan bisa menarik minat para peserta didiknya, maka tentunya peran Pembina Pramuka harus menciptakan motivasi dan suasana latihan yang menarik, kekinian dan tidak monoton hanya  berbasis Syarat Kecakapan Umum ( SKU ) atau Syarat Kecakapan Khusus ( SKK ) atau pencapaian lainnya.

Jumlah Pembina dan pelatih kurang memadai

Ini mungkin tugas Kwartir dan Pusdiklatnya dalam rangka menciptakan para Pembina Pramuka dan Pelatih Pembina Pramuka yang handal dan berkualitas, maka tentunya secara priodik dan berkesinambungan menyelenggarakan kursus-kursus Pembina maupun Pelatih Pembina seperti KMD, KML, KPD bahkan KPL, bahkan tidak berhenti di situ saja, banyak kursus Pembina yang diselenggarakan Pusdiklat demi menjadikan Pembina yang mumpuni bukan saja menguasai managemen pola pembinaan namun juga ketrampilan diri Pembina dalam bidang Teknik Kepramukaan (Scouting Skill), karena selama ini banyak Pembina yang mengikuti kursus Pembina hanya sebatas gugur kewajiban, implementasi ke peserta didiknya tidak pernah, sehinga sasaran menikuti kursus tersebut tidak tercapai, maka berdampak pada tingkat kemajuan peserta didik di gugus depannya yang tidak berjalan dengan baik walaupun ada pembinanya yan pernah menikuti kursus Pembina Pramuka.

PRAMUKA SMP AL-HADI

Masih ada sekolah yang tidak mempunyai Nomor Gudep

Meman selama ini menjadi kendala di lapangan, ketika Gugus Depan akan berkiprah lebih mendalam atau lebih aktif lagi menyelenggarakan kegiatan Kepramukaan di pangkalannya, terkadang ada Kwartir Ranting atau Kwartir Cabang yang melakukan proses registrasi Nomer Gudep terlalu birokrasi dan bertele-tele dalam hal syarat pendirian gugus depan, sehingga banyak gudep yang sudah pesimis dulu, maka akhirnya ada kebingungan tersendiri manakal mau mengadakan kegiatan Kepramukaan sementara Nomer Gudep belum juga ada atau belum resmi dlam menyelenggarakan kegiatan bilamana belum turun nomer gudepnya.

Sarana dan prasarana kurang memadai

Ini mungkin hampir terjadi di setiap Gugus Depan, kenapa demikian, sebuah gudep apabila mau dikatakan sudah berjalan dengan benar tentu saja sudah ada dukungan penuh dari Kamabigus/ Kepala Sekolah, idealnya gugus depan harus ada adminisrasi gudep yang lengkap di tambah lagi sanggar gudep dan tentunya perlengkapan penunjang lainnya seperti Plang gudep, tenda, tongkat dan perlengkapan yang lainnya. Namun demikian ada beberapa gudep dengan perlengkapan seadanya tapi mampu secara priodik melaksanakan kegiatan kepramukaan.

Citra Gerakan Pramuka

Satu hal yang sering terjadi di organisasi Kepramukaan saat ini adalah ” Latah ” terhadap siapa yang harus memimpin Kwartirnya, maka tak ayal sekarang ini banyak pejabat public yang notabene jabatan politis dan tentu saja orangnya pun orang partai, sering di pilih di jadikan ketua Kwartir, dengan harapan memudahkan koordinasi dalam rangka mendukung semua lini kegiatan, baik di bidang anggaran maupun fasilitas-fasilitas lain yang dipunyai oleh pejabat public tersebut. Tentu saja taruhanya adalah nama baik Gerakan Pramuka, iya andai saja pejabat public tersebut yang di jadikan Ketua Kwartir tidak tersangkut persoalan hukum dalam kedinasanya mungkin nama baik pasti akan terukir disana, namun kalau tersangkut persoalan hukum semisal Narkoba ataupun Korupsi, dipastikan nama Gerakan Pramuka nya juga pasti menjadi sorotan public.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
<span>%d</span> blogger menyukai ini: